Nisyaveris.com
Kamis, 25 Juni 2015
SAHABAT
kesendirian ini membuatku belajar bagaimana teman itu begitu berharga, canda, tawa, emosi berbaur menjadi satu rasa persahabatan, kadang kita berfikr klau teman itu selalalu membuat kita jengkel, akan tetapi teman janganlah kmu sia''kan shabat yg berada di dkat kita saat ini..................
Rabu, 24 Juni 2015
Rabu, 29 Oktober 2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Menurut
Soedijarto, Sebuah Pengalaman Pemikiran Bagi Prosedur Perencanaan dan
Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi BP3K Departemen P dan K 1975,
dinyatakan bahwa kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang
direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh para siswa atau para mahasiswa
untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh suatu lembaga
pendidikan.[1]
Kurikulum merupakan suatu alat yang dipakai
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap
perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan
pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing masing satuan pendidikan.
Sejalan dengan ketentuan tersebut, perlu ditambahkan bahwa pendidikan nasional
berakar pada kebudayaan nasional dan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila
dan undang Undang Dasar 1945.[2]
Kurikulum,
dalam hal ini, membutuhkan landasan yang kuat agar dapat dikembangkan oleh
sekolah. Namun, pada kenyataaannya kurikulum dibuat sesuai standar kompetensi
dan standar nasional yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah. Seharusnya,
pengembangan kurikulum itu dilakukan oleh sekolah atau lembaga pendidikan
tersebut yang lebih mengerti dan paham kurikulum seperti apa yang lebih
dibutuhkan. Pengalaman selama setengah abad negeri ini mengelola sendiri sistem
pendidikannya menunjukkan, setiap kali muncul pembicaraan yang mengarah pada
upaya perbaikan sistem pendidikan nasional selalu yang menjadi titik berat
perhatian adalah pembenahan kurikulum.[3]
Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah
benar kurikulum memang memiliki dasar dan landasan yang kuat yang memang
disiapkan agar peserta didik, pendidik, orang tua dan komponen pendidikan
lainnya sesuai dengan tujuan pendidikan dan standar pendidikan. Apa yang
mendasari itu semua? Benarkah kurikulum itu dibuat untuk memperbaiki kurikulum
yang lama dengan kurikulum yang baru, yang sering disebut dengan evaluasi
kurikulum? Dimana sistem evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat
pencapaian keberhasilan peserta didik dalam bentuk hasil khusus.[4]
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka kami
mendapat permasalahan yang dapat dirumuskan, antara lain:
1. Bagaimanakah Landasan Pengembangan
Kurikulum?
2. Bagaimanakah Dasar Pengembangan Kurikulum?
3. Bagaimanakah Pendekatan-Pendekatan
Pengembangan Kurikulum?
C.
TUJUAN
1. Mengetahui Landasan Pengembangan Kurikulum.
2. Mengetahui Dasar Pengembangan Kurikulum.
3. Mengetahui Pendekatan Pengembangan Kurikulum.
D.
KEGUNAAN
Dalam pembuatan makalah ini, ada beberapa
manfaat yang dapat diambil:
1. Adanya makalah ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai sumbangan pemikiran terhadap suatu ilmu.
2. Penyusunan
makalah ini dapat dikaji bersama dalam forum diskusi
3. Mencari solusi yang bijak dalam
menyelesaikan masalah yang timbul dalam forum diskusi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGEMBANGAN
KURIKULUM
Kurikulum informal terdiri atas kegiatan yang
direncanakan, namun tidak langsung berhubungan dengan kelas atau mata pelajaran
tertentu dan kurikulum itu dipertimbangkan sebagai pelengkap bagi kurikulum
formal. Kurikulum formal mengikuti rencana kurikulum itu sendiri dan rencana
pengajaran yang keduanya ini akan menjadi fokus pembicaraan kita, yaitu apakah
pengembangan kurikulum itu? Pengembangan kurikulum adalah proses yang
mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang
lebih baik.[5]
Berdasarkan
pandangan di atas bahwa keberhasilan kegiatan pengembangan kurikulum dalam
proses pendidikan dan pengajaran dijumpai beberapa hal pokok yang harus
dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum. Pertama, adalah filsafat hidup
bangsa, sekolah dan guru itu sendiri. Dalam hal ini negara Indonesia adalah
negara Pancasila. Jadi segala kegiatan sekolah atau proses belajar mengajar
yang diselenggarakan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan pribadi
peserta didik ke arah manusia Pancasila.[6]
Kedua adalah pertimbangan harapan, kebutuhan
dan permintaan masyarakat akan produk pendidikan. Hal ini berarti asas
relevansi pengembangan kurikulum harus dijaga. Disamping itu kondisi masyarakat
lokal perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurkulum.[7] Ketiga,
hal yang penting dalam pengembangan kurikulum adalah kesesuaian kurikulum
dengan kondisi peserta didik. Sebab kurikulum pada dasarnya adalah untuk
peserta didik. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum para pengembang
kurikulum harus memperhatikan karakteristik peserta didik, baik karakteristik
umum maupun khusus.[8]
Keempat, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri untuk dipertimbangkan
dalam proses pengembangan kurikulum. Pada hakikatnya kurikulum berisikan ilmu
pengetahuan dan teknologi (meskipun tidak semua isi kurikulum). Tetapi pada
hakikatnya ilmu pengetahuan yang ada sedang berkembang dan dikembangkan perlu
dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum.[9]
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang
esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang dicapai bukan semata mata
memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih dititikberatkan untuk meningkatkan
kualitas pendidikan. Pengamanan kurikulum merupakan proses yang menyangkut
banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Disamping keempat determination sets
tersebut di atas, masih banyak lagi hal yang perlu dipertimbangkan misalnya
pertentangan akan pernyataan tentang kurikulum. Siapa yang terlibat dalam
pengambangan kurikulum, bagaimana prosesnya, apa tujuannya dan kepada siapa
ditujukan. Untuk menjawab permasalahan ini, maka perlu ditinjau lagi
tentang pengembangan kurikulum menurut pendapat beberapa hal lain.[10]
Menurut Tyler,
landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial, budaya dan
psikologis. Pendapat tersebut serupa dengan yang dikemukakan Murray Print bahwa
landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial budaya, dan
psikologi, Perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan terakhir beliau
menambahkan atau melengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (organisatoris).[11]
Beberapa
landasannya antara lain:
1.
Landasan Pengembangan Secara Filosofis
Landasan
filosofis pancasila yang dianut oleh Negara kita dengan prinsip demokratis,
mengandung makna bahwa peserta didik diberi kebebasan untuk berkembang dan
mampu berfikir intelegen dikehidupan masyarakat, melakukan aktivitas yang dapat
memberikan manfaat terhadap hasil akhir dan menekankan nilai-nilai manusiawi
dan kultural dalam pendidikan.[12]
2.
Landasan Pengembangan Secara
Psikologis
Teori belajar
dijadikan dasar bagi proses belajar mengajar. Dengan demikian ada hubungan yang
erat antara kurikulum dengan psikologi belajar dan psikologi anak.[13]
Para ahli
pengembangan kurikulum selalu menjadikan anak sebagai salah satu pokok
pemikiran, agar anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat
mengubah sikapnya, dapat menerima norma-norma dan dapat menguasai sejumlah
keterampilan. Persoalan yang penting ialah bagaimana anak itu belajar, dalam
keadaan yang bagaimana pelajaran itu memberi hasil yang sebaik-baiknya, maka
kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang efektif terhadap
suatu proses yang pelik dan komplek tersebut, maka timbullah berbagai teori
belajar.[14]
3.
Landasan
Pengembangan Secara Sosial Budaya.
Indonesia
memiliki kebudayaan yang sangat heterogen di tiap daerah dan masyarakatnya.
Oleh sebab itu, masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam
penggembangan kurikulum sehingga aspek sosiologis dijadikan salah satu asas.
Dalam hal ini pun kita harus menjaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi
sehingga timbul kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau “society
centered curriculum “. Di Indonesia belum tertuju kearah itu, tetapi
perhatian terhadap perkembangan kebudayaan yang ada di masyarakat sudah
diwujudkan dalam bentuk kurikulum muatan lokal di tiap daerah. Dengan
dijadikannya sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum, maka peserta
didik nantinya diharapkan mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.[15]
4.
Landasan
Pengembangan Kurikulum Dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Landasan ini
berkenaan dengan perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Salah
satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Masyarakat yang berkembang
karena dipengaruhi perkembangan ilmu dan tekhnologi, yang memiliki pengaruh
yang cukup kuat pada pengembangan kurikulum, terutama teknologi industri,
transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronik yang menyebabkan
masyarakat berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat
informasi dan global. Perubahan ini akan mempengaruhi perkembangan setiap
individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kebiasaan bahkan pola-pola
hidup mereka.[16]
Dengan IPTEK
sebagai landasan, peserta didik diharapkan mampu mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan teknologi dan kesenian sesuai dengan sistem nilai, kemanusiawian
dan budaya bangsa.[17]
5.
Landasan
Pengembangan Kurikulum Secara Organisatoris
Landasan ini
berkenaan dengan bentuk organisasi bahan pelajaran yang disajikan. Bagaimana
bahan pelajaran akan disajikan. Apakah dalam bentuk bidang studi yang
terpisah-pisah, ataukah di usahakan adanya hubungan antara pelajaran yang
diberikan, misalnya dalam bentuk broad field atau bidang studi
seperti yang dilaksanakan di Indonesia pada saat ini. Contoh IPA, IPS, Bahasa
dan lain-lain. Berdasarkan ilmu jiwa Gestalt lebih mengutamakan keseluruhan.
Karena kurikulum itu bermakna dan lebih relevan dengan kebutuhan anak dan
masyarakat. Aliran psikologi ini lebih cenderung memilih kurikulum terpadu
atau integrated curriculum.[18]
Mengacu kepada
landasan pengembangan kurikulum di atas, maka tujuan kegiatan siswa akan
menekankan pada pengembangan sikap dan perilaku agar berguna dalam suatu
kehidupan masyarakat yang demokratis.[19]
Dasar atau asas
kurikulum adalah kekuatan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi
kurikulum susunan atau organisasi kurikulum. Dasar atau asas kurikulum disebut
juga sumber kurikulum atau determinant kurikulum. [20]
Herman H.Horne,
memberikan dasar atau asas kurikulum dengan tiga macam yaitu:
1.
Dasar Psikologis, yang digunakan untuk
mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (The
ability and needs of children).
2.
Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk
mengetahui tuntutan yang sah dari masyarakat (The legitimate demans of
society).
3.
Dasar Filosofis, yang digunakan untuk
mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of univrse
in which we live).[21]
Namun pendapat
di atas sesungguhnya belum menjamin bahwa suatu kurikulum dapat dijadikan alat
untuk mencapai tujuan pendidikan, karena belum memasukkan nilai nilai yang
wajib yang diresapi oleh peserta didik sejalan dengan tujuan yang ditetapkan.[22]
As Syaibani
menetapkan lima dasar pokok kurikulum pendidikan yaitu dasar religi, falsafah,
psikologis, sosiologis dan organisatoris.
1.
Dasar Religius, dasar yang ditetapkan
berdasarkan nilai nilai Ilahi yang tertuang dalam al Qur`an, Sunnah karena
kedua kitab tersebut merupakan nilai kebenaran yang universal, abadi dan
bersifat futuristik.[23]
2.
Dasar Falsafah, dasar ini memberi arah dan
kompas tujuan pendidikan. Dengan dasar filosofis sehingga susunan kurikulum
mengandung satu kebenaran terutama kebenaran dibidang nilai nilai sebagai
pandangan hidup yang diyakini dari suatu kebenaran. Hal tersebut karena satu
kajian filsafat adalah sistem nilai, baik yang berkaitan dengan cara hidup dan
kehidupan, norma norma yang muncul dari individu sekelompok masyarakat ataupun
bangsa yang dilatarbelakangi pengaruh agama, adat istiadat dan konsep individu
tentang pendidikan.[24]
3.
Dasar Psikologis, dasar ini mempertimbangkan
tahapan psikis anak didik yang berkaitan dengan perkembangan jasmaniah,
kematangan, bakat bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi, sosial, kebutuhan
dan keinginan individu, minat dan kecakapan. Dasar psikologis terbagi kepada
dua macam, yaitu: pertama psikologi belajar, hakikat anak itu dapat dididik,
dibelajarkan dan diberikan sejumlah materi dan pengetahuan. Disamping itu
hakikat anak dapat merubah sikapnya serta dapat menerima norma norma, dapat
mempelajari keterampilan keterampilan berpijak dari kemampuan anak tersebut.
Oleh karena itu bagaimana kurikulum memberikan peluang belajar bagi anak
tersebut dan bagaimana proses belajar berlangsung, serta dalam keadaan
bagaimana anak itu memberi hasil yang sebaik baiknya. Kedua psikologi anak,
setiap anak mempunyai kepentingan yakni untuk mendapatkan situasi situasi
belajar kepada anak anak untuk mengembangkan bakatnya. Oleh karena itu wajarlah
bila anak merupakan faktor penentu dalam pembinaan kurikulum yang berlangsung
selama proses belajar mengajar.[25]
4.
Dasar Sosiologis, dasar ini memberikan
implikasi bahwa kurikulum pendidikan memegang peranan penting terhadap
penyampaian dan pengembangan kebudayaan, proses sosialisasi individu,
rekonstruksi masyarakat. Meskipun sering kita temukan kesulitan dalam bentuk
kebudayaan macam apa yang patut disampaikan serta ke arah mana proses
sosialisasi dan bentuk masyarakat yang bagaimana yang ingin direkonstruksikan
sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hal tersebut karena tidak mudah mengkaji
tuntutan masyarakat terutama karena adanya pengaruh ilmu pengetahuan dan
teknologi yang menyebabkan masyarakat selalu dalam proses perkembangan sehingga
tuntuannya dari masa kemasa tidak selalu sama.[26]
5.
Dasar Organisatoris, dasar ini mengenai bentuk
penyajian bahan pelajaran, yakni organisasi kurikulum. Dasar ini berpijak dari
ilmu jiwa assosiasi yang menganggap kurikulum adalah sejumlah bagian bagiannya
sehingga menjadikan kurikulum mata pelajaran yang terpisah pisah. Kemudian
disusul ilmu jiwa Gestalt yang menganggap kurikulum mempengaruhi organisasi
kurikulum yang disusun secara unit tanpa adanya batas batas antara berbagai
mata pelajaran, kedua psikologi tersebut tidak lepas dari keuntungan dan
kelebihannya.[27]
C.
Pendekatan
Pengembangan Kurikulum PAI
Pendekatan
adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan
mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis agar memperoleh
kurikulum yang lebih baik.[28]
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan
merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada
titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan
kurikulum.[29]
Di dalam teori
kurikulum setidak-tidaknya terdapat empat pendekatan yang dapat digunakan dalam
pengembangan kurikulum, yaitu: pendekatan subjek akademis; pendekatan
humanistis; pendekatan teknologis; dan pendekatan rekontruksi sosial.[30]
Ditinjau dari tipologi-tipologi filsafat
pendidikan Islam sebagaimana uraian sebelumnya, maka tipologi
perennial-esensialis salafi dan perennial-esensialis mazhabi lebih cenderung
kepada pendekatan subjek akademis dan dalam beberapa hal juga pendekatan
teknologis. Demikian pula, tipologi perennial-esensialis kontektual
falsitikatif juga cenderung menggunakan pendekaran subjek akademis dan dalam
beberapa hal lebih berorientasi pada pendekatan teknologis dan pendekatan
humanistis. Tipologi modernis lebih berorientasi pada pendekatan humanistis.
Sedangkan tipologi rekonstruksi sosial lebih berorientasi pada pendekatan
rekonstruksi sosial.[31]
Berikut adalah bentuk dari berbagai pendekatan
pengembangan kurikulum PAI, antara lain:
1.
Pendekatan
Subjek Akademis
Kurikulum disajikan dalam bagian-bagian ilmu
pengetahuan, mata pelajaran yang di intregasikan. Ciri-ciri ini berhubungan
dengan maksud, metode, organisasi dan evaluasi. Pendekatan subjek akademis
dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi
disiplin ilmu masing-masing. Para ahli
akademis terus mencoba mengembangkan sebuah kurikulum yang akan melengkapi
peserta didik untuk masuk ke dunia pengetahuan, dengan konsep dasar dan
metode untuk mengamati, hubungan antara sesama, analisis data, dan penarikan
kesimpulan. Pengembangan kurikulum subjek akademis dilakukan dengan cara
menetapkan lebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari
peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu.[32]
Pendidikan
agama Islam di sekolah meliputi aspek Al-quran/Hadist, keimanan, akhlak,
ibadah/muamalah, dan tarih/ sejarah umat Islam. Di madrasah, aspek-aspek
tersebut dijadikan sub-sub mata pelajaran PAI meliputi : Al-quran Hadits,
Fiqih, Aqidah Akhlaq, dan sejarah. Kelemahan pendekatan ini adalah kegagalan
dalam memberikan perhatian kepada yang lainnya, dan melihat bagaimana isi dan
disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern yang kompleks,
yang tidak dapat dijawab oleh hanya satu ilmu saja.[33]
2.
Pendekatan
Humanistis
Pendekatan
Humanistis dalam pengembangan kurikulum bertolak dari ide "memanusiakan
manusia". Penciptaan konteks yang akan memberi peluang manusia untuk
menjadi lebih human, untuk memprtinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi,
dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengembangan program pendidikan.[34]
Kurikulum Humanistis dikembangkan oleh para
ahli pendidikan Humanistis. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan
pribadi yaitu John Dewey. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa.
Kurikulum Humanistis ini, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional
yang baik dengan peserta didiknya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan
adalah sebagai berikut:[35]
1. Mendengar
pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2. Menghormati individu peserta didik.
3. Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat
Dalam pendekatan Humanistis ini, peserta didik
diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya. Kurikulum ini melihat
kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk peserta dimasa depan. Sesuai dengan
prinsip yang dianut, kurikulum ini menekankan integritas, yaitu kesatuan
perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan
tindakan. Beberapa acuan dalam kurikulum ini antara lain:[36]
1. Integrasi
semua domain afeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, nilai-nilai, dan domain kognisi, yaitu kemampuan dan
pengetahuan.
2. Kesadaran dan kepentingan.
3. Respon terhadap ukuran tertentu, seperti
kedalaman suatu keterampilan.
Kurikulum Humanistis memiliki kelemahan, antara
lain:
1. Keterlibatan
emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual
peserta didik.
2. Meskipun
kurikulum ini sangat menekankan individu tapi kenyataannya terdapat keseragaman
peserta didik.
3. Kurikulum
ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
3. Pendekatan
Teknologis
Pendekatan teknologi dalam menyusun kurikulum
agama islam bertolak dari analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas tertentu. Materi yang diajarkan, kriteria evaluasi
sukses, dan strategi belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas (job
analysis) tersebut. Kurikulum berbasis kompetensi yang sedang digalakkan
disekolah/ madrasah termasuk dalam kategori pendekatan teknologis. [38]
Dalam
pengembangan kurikulum PAI, pendekatan tersebut hanya bisa digunakan untuk
pembelajaran PAI yang menekankan pada know how cara
menjalankan tugas-tugas tertentu. Misalnya cara menjalankan shalat, haji,
puasa, zakat, mengkafani mayat, shalat jenazah dan seterusnya. Pembelajaran
dikatakan menggunakan pendekatan teknologis, bilamana ia menggunakan pendekatan
sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola,
melaksanakan dan menilainya, Di samping itu, pendekatan teknologis ingin
mengejar kemanfaatan tertentu, sehingga proses dan rencana produknya (hasilnya)
diprogram sedemikian rupa, agar pencapaian hasil pembelajaranya (tujuan) dapat
dievaluasi dan diukur dengan jelas dan terkontrol. Dari rencana proses
pembelajaran sampai mencapai hasil tersebut diharapkan dapat dilaksanakan
secara efektif dan efisien. [39]
Pendekatan
teknologis ini sudah barang tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan, antara
lain: ia terbatas pada hal-hal yang bisa dirancang sebelumnya, baik yang
menyangkut proses pembelajaran maupun produknya. Karena adanya keterbatasan
tersebut, maka dalam pembelajaran pendidikan agama islam tidak selamanya dapat
menggunakan pendekatan teknologis. Jika dalam sebuah pembelajaran PAI
menyangkut perencanaan dan proses bisa dengan pendekatan teknologis akan tetapi
ketika harus mengevaluasi tentang keimanan peserta didik atas materi rukun iman
misalnya, maka pendekatan teknologis tidak bisa digunakan, karena evaluasi ini
sulit untuk diukur.[40]
Berikut contoh
pendekatan teknologis dalam pengembangan kurikulum PAI. Sebagaiman
tertuang dalam kurikulum:[41]
1. Standar
kompetensi: Mampu mempraktikkan wudlu dan mengenal shalat fardhu.
2. Kompetensi
dasar: Melaksanakan wudlu.
3. Hasil
belajar:
a) Mampu
menjelaskan tatacara wudlu.
b) Mampu
menghafal niat wudlu.
c) Mampu
menyebutkan sunah-sunah wudlu.
d) Mampu
mempraktikan wudlu.
4. Pendekatan
Rekrontruksi Sosial
Kurikulum ini
sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik
perkembangan ekonomi. Kurikulum ini bertujuan untuk menghadapkan peserta didik
pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusian. Permasalahan yang muncul
tidak harus pengetahuan sosial saja, tetapi di setiap disiplin ilmu termasuk
ekonomi, kimia, matematika dan lain-lain. Kurikulum ini bersumber pada aliran
pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri,
melainkan kegiatan bersama. Melalui interaksi ini siswa berusaha memecahkan
problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan
masyrakat yang lebih baik. [42]
Kegiatan yang
dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial antara lain melibatkan:
1. Survey
kritis terhadap suatu masyarakat.
2. Studi
yang melihat hubungan antara ekonomi lokal dengan ekonomi nasional atau
internasional.
3. Study
pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal.
4. Uji
coba kaitan praktek politik dengan perekonomian.
5. Berbagai
pertimbangan perubahan politik.
Pembelajaran
yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial harus memenuhi 3 kriteria
berikut, yaitu: nyata, membutuhkan tindakan dan harus mengajarkan nilai.
Evaluasi dalam kurikulum rekontruksi sosial mencakup spektrum luas, yaitu
kemampuan peserta didik dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan
masalah, pendefinisian kembali pandangan mereka dan kemauan mengambil tindakan.[44]
Dr. Abdullah
Idi, M.Ed dalam bukunya Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik,
menambahkan 3 (tiga) pendekatan pengembangan kurikulum, yaitu:[45]
a. Pendekatan
Berorientasi pada Tujuan
Pendekatan ini
menempatkan rumusan atau penempatan tujuan yang hendak dicapai dalam posisi
sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam pelaksanaan proses belajar
mengajar.
Kelebihan
pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada tujuan adalah:
1. Tujuan
yang ingin dicapai jelas bagi penyusun kurikulum.
2. Tujuan
yang jelas akan memberikan arah yang jelas pula dalam menetapkan materi
pelajaran, metode, jenis kegiatan dan alat yang dipergunakan untuk mencapai
tujuan.
3. Tujuan-tujuan
yang jelas itu juga akan memberikan arah dalam mengadakan penilaian terhadap
hasil yang dicapai.
4. Hasil
penelitian yang terarah itu akan membantu penyusun kurikulum di dalam
mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.[46]
b. Pendekatan
dengan Pola Organisasi Bahan
Pendekatan ini dapat dilihat dari pola
pendekatan:
1) Pendekatan
pola Subject Matter Curriculum
Pendekatan ini penekanannya pada berbagai
matapelajaran secara terpisah-pisah, misalnya: sejarah, ilmu bumi, biologi,
matematika dan sebagainya. Matapelajaran ini tidak berhubungan satu sama lain.[47]
2) Pendekatan
pola Correlated Curriculum
Pendekatan ini adalah pendekatan dengan pola
mengelompokkan beberapa matapelajaran (bahan) yang sering dan bisa secara dekat
berhubungan. Misalnya, bidang studi IPA, IPS dan sebagainya.
Pendekatan ini dapat ditinjau dari berbagai
aspek (segi), yaitu:
a. Pendekatan Struktur
Contoh: IPS, terdiri atas Sejarah, Ekonomi,
Sosiologi.
b. Pendekatan
Fungsional
Pendekatan ini berdasarkan pada masalah yang
berarti dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pendekatan tempat
atau daerah
3) Pendekatan
pola Integrated Curriculum
Pendekatan ini berdasarkan kepada keseluruhan
hal yang mempunyai arti tertentu, Misalnya: pohon; sebatang pohon ini bukan
merupakan sejumlah bagian-bagian pohon yang terkumpul, akan tetapi merupakan
sesuatu yang memiliki arti tertentu yang utuh, yaitu pohon.[49]
c. Pendekatan
Akuntabilitas (Accountability)
Accountability atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan
tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat akhir-akhir ini menjadi hal yang
penting dalam dunia pendidikan. Akuntabilitas yang sistematis pertama kali
diperkenalkan Frederick Tylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini.
Pendekatannya yang dikenal sebagai scientific management atau
manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan
pekerja dalam waktu tertentu. Tiap pekerja bertanggung jawab atas penyelesaian
tugas itu.[50]
Menurut Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd., ada
dua pendekatan yang bisa diterapkan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:[51]
1. Pendekatan Top
Down
Dikatakan
pendekatan top down atau pendekatan administratif, yaitu
pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Oleh karena dimulai dari
atas itulah, pendekatan ini juga dinamakan line staff mode.Dilihat
dari cakupan pengembangannya, pendekatan top down bisa dilakukan baik untuk
menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curriculum construction) ataupun
untuk penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (curriculum improvement). Prosedur
kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan kira-kira sebagai
berikut:Langkah pertama, dimulai dengan pembentukan tim pengarah oleh
pejabat pendidikan. Langkah kedua, adalah menyusun tim atau
kelompok kerja untuk menjabarkan kebujakan atau rumusan-rumusan yang telah
disusun oleh tim pengarah. Langkah Ketiga, apabila kurikulum sudah
selesai disusun oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan
kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Langkah
Keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah
untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu.[52]
2. Pendekatan Grass
Roots
Dalam model
grass roots atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif dari bawah
lalu disebartluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan istilah
singkat sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Oleh karena
sifatnya yang demikian, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam
penyempurnaan kurikulum (curriculum improvement), walaupun dalam skala yang
terbatas mungkin juga digunakan dalam pengembangan kurikulum baru (curriculum
construction).[53]
Ada beberapa
langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat dilakukan manakala menggunakan
pendekatan grass roots ini. Pertama, menyadari adanya masalah.
Berawal dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Kedua,
mengadakan refleksi. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literature yang relevan
misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian yang relevan dengan
masalah yang kita hadapi atau mengkaji sumber informasi lain. Ketiga,
mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Guru memetakan berbagai
kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggulangannya. Keempat,
menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai
dengan situasi dan kondisi lapangan. Kelima, mengimplementasikan
perencanaan dan mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpecahkan masalah
yang dihadapi. Dalam pelaksanaannya kita bisa berkolaborasi atau meminta
pendapat teman sejawat. Keenam, membuat dan menyusun
laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots. Langkah ini sangat
penting untuk dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga
memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada
gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.[54]
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengembangan
kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk
menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
Menurut Tyler,
landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial, budaya dan
psikologis. Pendapat tersebut serupa dengan yang dikemukakan Murray Print bahwa
landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial budaya, dan
psikologi, Perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan terakhir beliau
menambahkan atau melengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen
(organisatoris)
Herman H.Horne,
memberikan dasar atau asas kurikulum dengan tiga macam yaitu: Dasar Psikologis,
Dasar Sosiologis, Dasar Filosofis. Sedangkan As Syaibani menetapkan lima dasar
pokok kurikulum pendidikan yaitu dasar religi, falsafah, psikologis, sosiologis
dan organisatoris.
Menurut Prof.
Dr. H. Muhaimin, M.A., ada 4 macam pendekatan dalam pengembangan kurikulum,
yakni pendekatan subjek akademis, pendekatan humanistis, pendekatan teknologis
dan pendekatan konstruksi sosial.
Kemudian oleh
Dr. Abdullah Idi, M.Ed ditambahkan 3 pendekatan lagi, yaitu pendekatan
berorientasi pada tujuan, pendekatan dengan pola organisasi bahan dan
pendekatan akuntabilitas.
Menurut Prof.
Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd membaginya menjadi 2 pendekatan yaitu, pendekatan top
down (administrative/dari atas ke bawah) dan pendekatan grass
roots (dari bawah ke atas).
B. SARAN
Kita sebagai
penyusun hanya dapat memberi saran bahwa landasan pengembangan kurikulum
menjadi sebuah dasar yang harus dipertimbangkan dalam terwujudnya suatu
kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh sebab itulah, mari kita
sebagai calon guru profesional harus memahami landasan serta pendekatan
pengembangan kurikulum agar anak didik kita tidak ketinggalan zaman tapi kita
buktikan bahwa kita mampu dan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad.
1989.Pengembangan Kurikulum di Sekolah.Bandung: Sinar Baru1989.
Andayani, Abdul
Madjid dan Dian. 2004.Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi,
Konsep dan Implementasi kurikulum.Bandung : PT Rosdakarya.
Ansyar,
Muhammad.1989.Dasar Dasar Perkembangan Kurikulum.Jakarta: P2LPTK
Arifin,
M. 1987.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Bina Aksara
Depdikbud.1979.Kurikulum
1978
Idi, Abdullah.
2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Muhaimin.
2010. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Muhaimin.2006.Nuansa
Baru Pendidikan Islam, Mengrai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta:
PT Raja Gratindo Persada
Nasution,
S.1990.Asas-asas
Kurikulum. Bandung: Jemmars
Nasution.1993.Pengembangan
Kurikulum.Bandung: PT. Citra Aditya Bakti
Sanjaya, Wina.
2010. Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jakarta: Kencana
Sanjaya,Wina.2009. Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media Grup
Soetopo,
Hendyat dan Wasty Soemanto.1993.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta:
Bumi Akara
Subandijah.
1986.Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.Jakarta: Grafindo
Subandijah.1993. Pengembangan
dan Inovasi Kurikulum.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Langganan:
Postingan (Atom)


